februari ini hadir tanpa cita rasa seperti kekasih dengan senyumannya yang tersamar sepertinya aku, kau dan mereka membeku dalam perenungan hingga hasrat akan mawar merah jambu pun lunglai layu diterpa semilir pembawa awan hujan yang siap menumpahkan segala kepedihan dan tahukah kau? selalu ada kasih sayang disini, dihati ini disaat kertas-kertas bertuliskan definisi cinta yang seperti bayangan bayangan yang berkacak pinggang dibelakang mu itu, bayangan penghisap yang haus darah mereka berkata, mungkin itu benar... kemungkinan ini sejenis roh-roh halus yang bergentayangan dan rasa ini kandas oleh tepukan dada yang membuat ku muak itukah mau mu dibalik tangis yang syahdu? laksana meteorit menghujani lembah dijiwa hingga menggelepar lalu? karena aku kan ke utara membelah horison senja ucapkan saja salam pada ilalang selagi hujan memberinya semangat perlawanan desing dan desau membahanakan frase-frase tentang ironi yang patriotik jika saja dunia ini dirajut oleh sulaman rasa pada perandaian semua jalinan belaka dari anyaman emosi yang menggebu katakan, katakanlah...
Disuatu tempat, 22 Februari 2010 Prasasti untuk sebuah perjalanan
Kali ini saya sepakat bahwa menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan. Bagaimana tidak bosan, jika hanya untuk mendapatkan data harian saja kita disuruh menunggu karena orang yang bersangkutan harus mencari-cari dulu dokumen ditumpukan file yang tidak teratur. Saya tidak habis pikir, kenapa hal tersebut masih terjadi? Bukankah revolusi industri sudah berlangsung sejak berabad-abad lalu? Revolusi yang katanya mengubah pola dimasyarakat dari pola masyarakat agraris ke masyarakat industri dan bukankah penggunaan sistem serta peralatan kerja adalah salah satu ciri dalam masyarakat industri? Lalu, kenapa masih digunakan sistem pengendalian dokumen yang demikian buruk? Berapa banyak waktu yang terbuang dalam sehari hanya untuk mencari-cari dokumen? Berapa banyak waktu yang terbuang dalam seminggu? Sebulan? Setahun?.
Tentu saja kita kita mengenal banyak ungkapan mengenai betapa pentingnya mengefektifkan waktu, kita sangat familiar dengan ungkapan misalnya: "waktu adalah uang" dan atau "waktu ibarat pedang". Namun harus kita akui bahwa pelaksanaannya tentu saja tak seindah kita mengucapkan ungkapan tersebut. Kenapa demikian? Karena untuk bisa berdisiplin terhadap waktu, kita membutuhkan suatu keberanian. Keberanian disini diperlukan karena kita harus melakukan perubahan sikap dari yang asalnya tidak berdisplin terhadap waktu menjadi berdisplin waktu. Lebih jauhnya lagi, dalam melakukan penyesuaian dalam proses perubahan tersebut kita dituntut memiliki pengendalian diri. Hal ini sangat penting mengingat demi tercapainya target dari proses perubahan sikap yang dilakukan.
Ini baru sebatas masalah dokumen, bagaimana jika sudah menyangkut masalah yang lebih mendasar? Masalah tujuan hidup misalnya. Suatu tujuan yang tidak memiliki orientasi waktu pencapaian, maka berpotensi menimbulkan keletihan dan kejenuhan yang berujung pada kerapuhan yang menyedihkan.
Dalam rangka ballighu annii walau ayatan dalam persfektif quu anfusakum wa ahlikum naaran, saya hanya mau mengutip satu ayat yang berbunyi al mubazirina ikhwanu syayathin, maka mari kita katakan: say goodbye to syayathin.....
inilah satu puisi yang tanpa sengaja ditemukan nyempil difolder serba-serbi, sebelum di-delete mending diposting aja dulu. selamat menikmati, semoga belum kadaluarsa hehehe.....
KAMU DIBAWAH HUJAN CAHAYA REMBULAN
sayang, sore ini hujan membasahi bogor dengan rinainya membasahi mawar dalam pot dan menggugurkan kelopaknya
sayang, sore ini hujan membawa lamunanku padamu pada gemercik rindu
sayang, sore ini ditelevisi ku lihat savana berilalang liar adakah itu tempat pertemuan yang kan dijanjikan? ataukah kita kan bersua dipantai? dibebatuan karang? ataukah ku kan menjumpaimu sedang bermandi cahaya rembulan? entahlah...
sayang, yang pasti kini aku mengingatmu sore ini disaat hujan
Merdeka-Bogor, 11 Oktober 2009 Prasasti untuk sang dewi
setelah sekian lama... aku putuskan untuk menyerah terlalu berat menghadapi semua ini kesepian terlalu kuat untuk aku robohkan
aku tahu, aku tak mungkin memiliki semuanya tak akan pernah kugenggam seluruh gemerlap asa tapi kenapa aku tidak mendapatkan salah satunya? secercah pencerahan dan kehangatan sebentuk perhatian atas nyanyian sunyi suara hati
terus menggali harap hingga mimpi menimbunku begitu sesaknya
cukup sudah!!! aku menyerah, bendera putih ku kibarkan di tiang gantungan tempatku bertekuk lutut tanpa syarat
engineering room-january, 30, 2008 9:00 pm
catatan: bendera putih untuk minoritas cinta bendera putih untuk penderita mindercomplex bendera putih untuk kaum yang paling menderita atas semua harapan bendera putih untuk kinerja yang inferior
Puisi 2: KETIKA CINTA DATANG LEBIH AWAL
aku sedang tidak berharap aku sedang mencari mencari sesuatu sampai menemu bertemu dengan sang pujaan hati dimana dia? apakah tlah hadir dalam khayal ketika sukmanya melayang-layang mengelus kalbu semilir romantika yang begitu syahdu lenakan aku dalam beban yang teramat dahsyat wahai dikau sang penguasa imaji hadapi aku disini hadapi aku, satu lawan satu tunjukan padaku sejenis keanggunan biar aku rela lepaskan darah dan air mata berjibaku meraihmu
gudang raw material-rabu, 30 january 2008 17:00
Puisi 3: OPHELIA
aku tidak sedang berharap aku sedang mencari mencarimu sampai menemu menemukanmu sang pujaan hati dimana kamu telah hadir dalam angan jiwamu terbang menuju hatiku
kamu, gadis diseberang mimpi meniupkan romansa begitu syahdu membuatku terlana dari beban yang sangat menyiksa
hey kamu !!! iya, kamu sang penguasa imaji hadapi aku disini hadapi aku, satu lawan satu hadapi aku dengan keanggunan perlihatkan padaku sebentuk kesahajaan biar ku rela melepaskan darah dan air mata berjibaku meraihmu
ppic room-monday, 4-2008 february
Puisi 4: BUNGA BANGKAI FEMINISME
pagi yang indah, sambut aku sambut dengan jemar sinar mentari menyentuh hangat semangat ini gelora untuk mengutuk segala bentuk emansipasi meneriakan sumpah serapah kepadanya seriang dendang merdu kicauan burung-burung gereja menyindir arogansi bunga-bunga yang tak tahu diri
pagi yang sejuk, sambut aku sambut aku dengan hembusan semilir pencerahan biar redup kesilauan yang melandanya melepaskan kesilauan itu dari mereka yang tiba dari "gelap"nya menuju "terang"nya, kesilauan yang menjadi euforia bunga-bunga temuan pak Raffles itu,
pagi yang cerah, sambut aku yang bergegas menuju taman -isme hendak kusirami dia dengan guyuran pesimistis biar segera layu aku tak tahan lagi dengan bau tak sedapnya
ppic room-tuesday, 5-2008 10:00 pm
Puisi 5: TRANSFORMASI BUDAYA
berjuang melawan diri dalam siaga, aku memanggul senjata adakah hasrat menjegal musuh yang menyelinap dalam dada? gerangan cita sedang bermuram durja?
masih layakkah disebut pejuang? saat semilir perubahan menerpa saat genderang peradaban ditabuh berdiri dibawah bendera revolusi yang berkibar enggan
semoga belum terkapar semoga tetap teguh bertahan syahdan fajar baru terbit biar mati setelah berarti
ppic room-friday, february 8 2008
Puisi 6: TAK BISA, TIDAK UNTUK SAAT INI !!!
gadis, kau tak akan pernah bisa menyentuhku aku sudah beku meski kau terus mencoba aku sudah lupa, aku sudah lupa akan arti rasa "itu" jika hanya berupa desir-desir asa sekedar harap yang membungkus cakrawala senja entah kapan ku terakhir kali mengingatnya gadis, aku sudah lupa
gadis, mungkin saja kita bicara tentang "itu" bila kau terus memaksa kita bicara diatas norma yang mengikat erat jangan jadikan ini ritual pagan dalam upacara persembahan ku mohon ...... inilah kaidahnya, membuat kita layak disebut manusia
gadis, tak perlu kau memalingkan wajahmu jika tak setuju jangan dengan senyum sinismu, jangan kau sayat pedih kemanusiaanku gadis, jangan paksa itu terjadi jangan biarkan kanibalisme saling memangsa hasrat jangan biarkan "itu" menjadi berlaku atas diri kita berlakulah sebagaimana mestinya diantara saling sengketa pertentangan yang tak bertautan jangan sampai terjadi diantara kita jangan ada sebuah kontradiksi, kontradiksi yang membuat jiwa-jiwa patah hati
gadis, tolong hentikan ku harap hentikan sekarang juga belajarlah untuk terbebas dari belenggu gadis, tataplah mataku jangan biarkan dirimu tersiksa hal semu jadi tolong hentikan lebih baik kita sibak tirai kabut diantara kita gadis, ku harap hentikan sekarang juga
gadis, dengarlah dentang lonceng menggema seperti nafsu mu terus memburu seperti detak jarum jam yang terus memacu gadis, kau harus segera berlari
gadis, jangan gunakan "itu" gemerlap indah binar matamu serupa gugusan galaksi memahkotai semesta jangan gunakan "itu" dengan benderangmu yang coba meluruhkan ku gadis, aku yakin kau tak akan kuasa menerangi hatiku yang pekat
gadis, sudahlah ...... kau dengan derai tawamu "itu" jelmaan sejenis gelombang hendak memecah batu karang serupa ombak saling menggulung mencoba mengikis pantai dengan belaiannya penuh gairah seperti "itu", kesendirianku hendak kau buat tak berdaya kesendirianku hendak kau terjang dengan hasratmu gadis, sudahlah ......
gadis, kenapa kau harus berlaku begitu menggoda menjamah nakal fantasiku supaya menggila menjelma dihadapanku selayak dewi Tara gadis, ada satu yang tak bisa kau ubah aku tetap teguh dalam dekapan erat ambisiku
engineering room-wednesday, february 13 2008 6:30 pm
Puisi 7: LITERATUR REVOLUSI
apa daya bahtera kita sudah kandas tinggal bertumpu pada biduk untuk melaju menyampaikan revolusi hingga pelabuhan harapan selagi bisa meninjau bintang timur penuh kemilau selagi ada semangat dan kerja keras mendesing menderu padaku gugusan pengalaman dan percaya diri menyeru sebuah kerinduan aku untuk transformasi budaya
engineering room- wednesday, february 13 2008
Puisi 8: VICIOUS CIRCLE
bertahan sampai esok pagi bertumpu pada asa yang tersisa mengeluh akan energi habis tercurah diriku harus berbagi dengan siapa?
harus bertahan, paling tidak sampai fajar menjelma merindu kehangatan entah dimana terpaku letih meronta
bertahan hingga mahluk baru ini kembali tercipta saat syayathin mengajakku berdansa bertafakur akan sebuah ironi aku berada dalam lingkaran syetan
ppic room-saturday, february 16 2008 6:30 pm
Puisi 9: LELAKI PENCEMBURU
Mahluk ini, lawan jenismu, menatap penuh tanya Menelanjangimu dengan tatapan curiga Memasungmu hingga terlampiaskan seluruh hasrat
ppic room with my friend-wednesday 21 2008 05:00 pm
Puisi 10: PEJUANG DAN DIRINYA
apa kabar perjuangan? letih itu kini menghampiriku menghampiri semangat tersisa letih dengan kesendirian aku terjerumus sepi
masih juga belum ada yang mengerti orang semakin tak peduli bagaimana aku harus memahami ini? adakah sabar tiada berbatas itu? Dimana dapat ku raih api abadi yang bisa menghangatkan dan menerangi? aku dengan seribu tanya
dan sampai pada suatu akhir, kesepian itu tersentuh lembut diusik sesosok bayangan yang singgah dalam tidurku membentangkan mimpi indah itu menjelang fajar gerangan romansa menarik seluruh imajinasiku kedalam pusaran bimbang tak bertepi aku digoda mimpi
aku, yang terbelenggu segala norma tak berdaya menghadapi khayal yang terus menggerogoti sampai kapankah kisah ini berlanjut? entahlah, mungkin sampai kenyataan menegurku dengan hantaman yang pahit aku tersenyum getir
ppic room, wednesday, february 21 2008 05:00 pm
Puisi 11: KIRANA
Inilah hal yang paling ku benci Pada saat melihat dirimu begitu mengagumkan Dan jemari asa ini tak sanggup menyentuh mu Persetubuhan harapan dan kenyataan adalah ilusi
Dirimu, Lihatlah dirimu bagai pelangi Dalam hasrat ku, Serupa cakrawala ingin memeluk sang juwita
Hadirlah dihadapan ku Hadirlah, Meski hanya sekilas dalam bayangan Hadirlah untuk saat ini Saat kontradiksi adalah sebuah tragedi Ambisi dan realitas yang tak kunjung berjabat tangan Tapi, kau tetap seorang idaman
June 05, 2008
Puisi 12: DIAM-DIAM JATUH CINTA
Manis, Tidakkah kau rasakan hangatnya hembusan nafas ini Meniupkan asmara penuh cita Untuk mu.... Hanya untuk mu
Manis, Tidakkah kau lihat binar cerah dimata ini Memancarkan cinta penuh harap Dalam diriku.... Terlalu lama, Dan terpendam di dada
Manis, Tidakkah kau dengar debaran dijantung ini Memacu rindu penuh pesona Dalam hentakan geloranya sampai ke nadi Tentang mu.... Adalah tentang mu
Manis, Tidakkah kau tahu Aku jatuh cinta pada mu Dalam diam.... Dan tidak akan pernah terucapkan
September 11, 2008
Puisi 13: SATU YANG MEMBERI ARTI
Adakah dirimu serupa pelangi Raut sempurna refleksi seberkas cahaya Ilusi berkata; "engkaulah sang pelipur lara" Nusa indah peredam gelora emosi Ibarat peri, kelembutannya menyentuh getar keterasingan
Nirmala, terpancar jelas dari pijar mata mu Untaian mutiara laksana hari-hari mu hadir disisi Riak-riak menandakan keceriaan kembali terhembuskan Adalah dirimu mengguratkan lingkar abadi
October 09, 2008
Catatan: for my sweet girl, friends forever
Puisi 14: PROLOG BURAM SEORANG LELAKI
Jingga itu, Lembayung yang bertaut pada cakrawala Aku terpekur, Dia telah pergi Mungkin, Mungkin ini bukan waktu yang tepat Malam kelabu, Rembulan yang murung dilangit kelam Adakah telah hadir? Untaian makna yang terukir dalam tulang dan hati Dewi, menjelmalah menjadi sebuah esensi Dan akan tiba saatnya Saat aku untuk mengerti Makna tentang "berpisah untuk bersatu" Makna tentang "bersatu untuk kemudian berpisah lagi" Akan tiba saatnya, Saat aku untuk mengerti Diingat sepanjang hidup dengan rasa terima kasih
Sukabumi, 21 Nopember 2007 12:33 dalam mendung dan galau
Puisi 15: DUALISME BIRU
Aku masih disini, Pada hari-hari di musim penghujan Menyambut fajar di pagi buta Melepas senja pada temaram malam Berdiri serupa mercusuar Berlumut dan kesepian Serunai kelabu menusuk pilu Berpijar cahaya yang mulai pudar Aku masih disini, Dalam letih pecarian Hampa dan semu Bagai tikus kecil berlari diatas roda
Aku masih disini, Tersudut diteluk senyap Memandang langit imaji menerawang sendu Saat gerimis mengguyur sepanjang hari Menyembunyikan wajah bermuram durja Sehelai tirai kabut tak tersibak
Aku masih disini, Ditepi dermaga tempat ku berlabuh Biduk pengharapan yang masih bersauh Tempat sementara asa ku tambat Entah sampai kapan, Bendera hitam berkibar diatasnya Diatasnya awan hitam menggumpal menggantung Apakah ideologi telah mati? Saat konsepsi penuh kilat dan guntur
Aku masih disini, Entah sampai kapan tertahan Meredam jiwa bergelora Memendam gejolak hasrat Maju berderap menuju nusa damai Nusa indah taman hati
Dan nyatanya aku masih disini Tetap tak beranjak Kabut khayal masih saja menghalangi pandangan ku
Aku masih disini, Tersesat dalam kegelapan hasrat dan keinginan Kasih buta dan rasa memiliki Sebuah ironi keresahan tak berjangka Akankah berakhir dikeranjang sampah? Entahlah,
Karena aku masih disini, Menunggu sosok bayang mu disana Biarpun jemari kita tak lagi berjabat erat Tetap ku nanti kau melempar senyum kembali Senyum manis yang selalu ku damba Meski itu bukan milik ku lagi Namun, karenanya aku rela mengoyak segala rasa Karenanya aku masih disini,
Aku masih disini, Sampai hembusan angin membawa segala, Perasaan yang selama ini tersembunyi Menyaksikan sandiwara yang kau lakonkan Merasakan tragedi cinta penuh cemburu Menghancurkan hati jatuh berderai Hati yang memendam rindu Hati yang membuat ku masih disini,
Aku masih disini, Untuk sekedar mengucap terima kasih untuk mu, sayang Terima kasih atas luka yang telah kau goreskan Luka yang menabuh kembali genderang revolusi Hanya dengan menepis benci dan dendam
Sukabumi, 12 desember 2008
Puisi 16: BIDADARI KECIL
Tersenyumlah, adik ku manis Tersenyum pada dunia yang murung Kenakan tiara rangkaian mimpi indah mu, Lalu, mainkan shimfoni dengan dawai pelangi Perdengarkan pada mereka Biar mereka tahu diri mu sejenis bidadari utusan dari surga
Sukabumi, 13 Desember 2008
Catatan: teristimewa untuk "adik" ku gabrielle,
Puisi 17: THE LAST MAN STANDING
Seberapa keras tinju mu terkepal? Sanggupkah pukulan mu meluluh lantakan dada ini? Menghantam hancur pendirian ku, Sanggupkah engkau?
Siapapun dirimu disana, Sanggupkah kalian melawan ku? Aku disini!!! Berdiri menantang durjana
Sukabumi, 14 Desember 2008
Catatan: Jika kalian bukan kawan ku, berarti kalian adalah musuh ku. Pengkhianat!!! kalian tak lebih dari sekedar pecundang busuk.
Puisi 18: SI PERUNGGU DAN SANG PERAWAN
Lihatlah, Ditangan si perunggu mawar lunglai layu Tak kuasa mengucap cinta meski merahnya merekah Pun sang perawan merasa berjaya Serasa laku bidadari swargaloka
Lihatlah, Sang perawan makin bertingkah masygul Ditangan si perunggu pena melukis bait pilu Puisi cinta bertinta darah dan air mata
Lihatlah, Dua anak manusia itu berkasih bak mentari dan bulan Saling bertaut namun tak jua bersua Desir angin siang dan malam Merintih dan mengeluh
Sukabumi, 16 Desember 2008
Catatan: 'kawan, menjadi orang yang patah hati bukan merupakan pilihan yang bijak dalam bercinta'
Puisi 19: PESAN MANIS SANG BIDADARI
Wahai dirimu yang hadir pada gradien asa Ku dengar selalu semilir bisik lembut mu Menerpa hingga ke tepi angan yang berbatas Menyelinap menelusuri sanubari Dalam setiap hirupan hawa surgawi Dalam setiap helaan nafas Adalah kesahajaan yang terhembuskan Pada pucuk pengharapan yang coba menyentuh langit Menguji akar keteguhan mencengkram bumi Memeluk erat si batu dengan kelembutan Meluluhkan kerasnya hati ini
Sukabumi, 20 desember 2008
Catatan: Atas perhatiannya, terima kasih wahai gadis diseberang mimpi
Puisi 20: TENTANGMU SERUPA PAGI
Masihkah ada yang tersisa untuk ku, Kerlip bintang timur di cakrawala sana Ku angankan seperti mata mu kala terjaga Masihkah binar itu menyertai
Masih adakah ruang di benak mu, Untuk ku dengan ide mu yang seksi Seperti embun di halaman rumah Saat kita berbagi tentang semangat di awal hari
Masihkah diri mu berkenan, Meluangkan waktu untuk ku Meski akhirnya pagi dan diri mu harus pergi Tapi paling tidak, Aku tetap memeluk kesan manis itu
Sukabumi, 23 Desember 2008
Catatan: Sesuatu yang berarti tak harus selalu tervisualisasikan
Puisi 21: SETENGAH PURNAMA
Rembulan memantulkan cahya separuh hati Menyayat pedih mimpi-mimpi yang ada Dalam malam... Dingin dan berkabut Terdengar sayup sebuah lagu Tralalala... Tralalala... Lalu, Aku ?
January 07, 2009
Catatan: quo vadis? manusia berfikir, tuhan tertawa...
Puisi 22: PROKLAMASI CINTA
Pada sendja ... Ku titipkan mimpi-mimpi tentang esok hari Lalu, biar saja lembayung ini luruh Tergantikan oleh hitam pada malam kita Eratkanlah hendaknya genggaman jemari Aku dan kamu, sang pelipur lara Berjalan dibawah purnama sayu Meniti garis menelusuri titik pagi yang pasti Menyongsong gerbang fajar cemerlang Harus kita pastikan saat itu milik kita
Sukabumi, 10 Januari 2009
Catatan: Aku berdo'a semoga tidak ada kabut dan atau hujan di awal hari...
Puisi 23: DIALEKTIKA SEPI
I
Demi masa-masa yang tercecer Demi segala ambisi yang telah terbakar habis Demi masa lalu yang hilang musnah Apakah kesejukan itu harus pedih terasa ? Manakala embun menetes di hati penuh luka Untuk rasa nyaman itu Untuk segalanya Harus sebanyak apa lagi ku bayar ? Berapa ?
II
"Quo vadis, quo vadis !!! Terus menggema memekakan telinga "Quo vadis, quo vadis !!! Ya! aku mendengar Aku tidak buta Aku tahu!!! Melankolisme adalah tembok ratapan Sebuah romansa Ah, itu hanyalah ilusi
III
Cogito ergo sum Aku berpikir, kenapa luka itu masih tetap saja ada ? Sebuah fatamorgana tentang panta rei Tentang sungai yang mengalun dibawah rembulan Maka, jangan menggoda ku untuk berpikir lagi Aku muak dilena secawan logika
IV
Seperti waktu yang tak bisa menunggu Aku pun harus terus berderap Merayap, Merangkak... Bukankah hidup itu adalah gerak ?
Menyapa mu, malaikal maut, di malam ini Digerbang kematian dibunuh sepi Diatas luka-luka yang membusukkan hati Apakah aku harus bergetar karena gentar ?
Saat asa merajai segala kepingan tingkah Ku tunggu hingga genta batas waktu memenggalnya Sudahlah, tak akan ku paksakan Jika pendulum tak jua berayun
V
Aku, si anak hilang Mencari ruang hati tempat untuk kembali Untuk sekedar tertidur nyenyak dibalik selimut pengertian Mencari jawaban dari segala kegelisahan yang ada Memberi arti atas kata kecewa Tentang kejujuran yang tertambat Dan kebohongan adalah suatu pengkhianatan tak termaafkan Meski konsepsi merupakan harga mati Aku tetap menanti sang bidadari hingga berkata Akankah larassatie sudi berkata "Yakinlah..."
Sukabumi, 11-19 Januari 2009
Catatan: "Pada malam-malam yang kelewat larut Saat aku menarik diri dari garis orbitasi Melambungkan selayang pandang Menghabiskan secangkir kopi bersama mereka (Hegel, Kirkegaard, Tan Malaka, Descrates, Marx dan Sarte) Berbantah kata tentang trauma dan phobia Trauma adanya di benak, sedang phobia ada di hati Sebuah kesimpulan adalah "Dialektika Sepi"
Puisi 24: BINTANG TIMUR
Embun masih saja belum menguap, Gerimis pun telah tiba dalam rintiknya yang merinai Bukit didepan rumah masih saja berkabut Sepanjang siang, sepanjang malam Dalam shimfoni yang membuat kepayang Dengarkanlah, dengarkanlah, aku akan bertutur.....
PEREMPUAN HITAM ITU MONALISA
Aku lemparkan koinnya, Segera setelahnya dia mulai bermain...
Pada pesona benaknya nan sexy, Takjubkan aku menatapnya seolah bagai cakrawala tak berujung Dia pun membatu, Tak tergerak menunjukan dimana pangkalnya terletak
Akulah jelmaan Da Vinci !!! Melukisnya seperti Monalisa serupa pagi Gerangan kenapa dia lakukan itu ? Membingkai diri dengan hitam, dengan malam
Ah, rupanya bintang timur menjelang Lupakan sejenak rajah lukai hati.... Lupakan sekejap gurat grafiti lukai hati.... Buah tangan lembutnya, Biarkan aku mendekap kesan itu selamanya...
Sukabumi, 17 Februari 2009
Catatan: Prasasti tentang "gadis diseberang mimpi"
Puisi 25: PRASASTI UNTUK SEBUAH PERUBAHAN
I PROLOG
Mungkin ini hanya merupakan penulisan ulang dari naskah-naskah terdahulu Sebuah re-definisi dari fundamental yang telah diletakan Dan kalaupun mau dicari perbedaannya Mungkin ini akan lebih bersifat pragmastis terhadap design yang futuristis Diantara keduanya, yang kini, sedang dicoba untuk dikombinasikan secara harmonis Satu sikap ? mungkin Suatu sikap menghadapi keprihatinan atas rendahnya tingkat konsistensi dan follow up
Sebagian orang menyebutnya zona aman, Sebagian lagi menyebutnya sebagai stabilitas, Tapi, aku sepakat dengan Ari Lasso bahwa itu adalah suatu "keseimbangan"
Masih dalam rangka memperkokoh sendi-sendi untuk tetap solid dan mengkristal Masih terbagi kedalam 3 (tiga) fase : perencanaan, implementasi dan evaluasi Masih berharap akan lahirnya satu kedewasaan dalam berfikir dan bertindak Masih berharap akan lahirnya rasa tanggung jawab Masih berharap hal ini akan mengalir kearah jawaban atas harapan-harapan terdahulu
II SUNSET TERAKHIR DI TELUK PALABUHANRATU
Aku merasakan beda memandang sunset itu kali ini Aroma yang berbeda Sensasi yang berbeda Dari sudut pandang lain ku melihatnya Bukan dibawah mercusuar, tempat biasa dimana aku mencurah segala gundah Bukan pula di bebatuan karang, tempat ku berkasih-kasih semasa remaja Bukan disana Aku melihatnya disudut lain
Ku memandangnya Petang ini Mentari setengah tercelup kedalam samudera Pelukan cakrawala tak jua kuat menahan lajunya Laut jingga Kaki langit menjingga Sunset pun menghias pelupuk mata Tapi kali ini ku merasa tak seperti biasa
III KETIKA IBU KU MEMBERI MOTIVASI.....
Jangan khawatir, gadis itu menunggu disana Tumbuhlah, nak Persiapkan segalanya Ibu percaya, kamu dapat melakukannya
Jangan pernah membayangkan dirimu begitu rumit Segalanya tentang mu, Ibu mengerti Dia pun pasti memahami Jangan panik, hanya berlakulah dengan benar
Tak perlu terbebani dengan kemewahan asa Kamu sudah benar Kamu dengan impian sederhana mu itu Walau kamu melihat jalan berliku menuju kesana Tentu saja, itulah resikonya bukan???
Anak ku, akan tiba saatnya Jika rumah mungil dan kebun yang luas itu telah ada Seperti dalam mimpi mu Dia kan hadir disamping mu Dalam rumah dengan perpustakaan abadi
Dia akan memberikan kepada mu anak-anak yang sehat dan cerdas Dia akan mendidiknya dengan baik Menjadikan mereka seperti mu Seperti anak ku, seperti mu
Kau akan menemukannya Dia akan menyapa mu sehangat mentari pagi Menentramkan mu dengan senyum tulusnya Akan membebaskan mu dari kesendirian Dari kesepian dan keterasingan
Pada saat itu, ketika telah tiba waktunya Kamu akan seperti menggenggam dunia Tak akan ada keinginan lain lagi Kamu akan meraihnya Buat Ibu mu ini bangga, nak Ibu tahu, kamulah yang terbaik
IV CATATAN AKHIR MASA INCUBASI
Tekanan tak akan lagi membuat aku berlari dan menjauh Tak perlu termenung Jika pendulum tak jua berayun Serupa godot yang dinanti tak jua menampakan diri Aku tak peduli
Yang terpenting adalah sebuah hasil akhir Hasil dengan akhir aku bukan seorang pecundang Karena terkurung kesepian sama saja berjabat tangan dengan kegetiran Aku akan tetap berhias dengan senyuman Meski ajal menjemput Meski tidak ada bidadari penyelamat Karena aku tau, swargaloka itu tidak pernah ada
Tetap berpegang pada cita-cita dan harapan Tetap berpegang untuk segalanya Menatap lurus kearah cita nun jauh disana Saatnya kini aku berdamai dengan kenyataan
Tentang mimpi yang sederhana Rasakanlah getarannya Getaran yang terasa ketika penderitaannya dituai
V TELAH TERJADI TRAGEDI
Kebanggaan telah layak disematkan padanya Karena semua pesan telah dia sampaikan Karena darah dan air mata telah dia tukarkan Karena dia telah melakukan sesuatu
Dan tragedinya adalah dunia tak siap untuk menerima kenyataan seperti itu
VI AKU ADALAH
Aku Adalah yang menggenggam motivasi menggenggam harap Adalah yang menelan pahitnya kenyataan Adalah yang tak akan pernah menjadikan tragedi sebagai sebuah akhir
Aku Adalah yang telah menghadapi rentang waktu yang mengerikan Adalah yang telah menjalani semua jenis kesendirian dan keterasingan Adalah yang berada dalam ambisi untuk menggenggam sejenis dunia
VII UMMI MADRASAT AL ULA
Hanya karena inilah ku berlutut dihadapan mu Hanya untuk, aku dan kamu, bersama Untuk menuntaskan arsitektur peradaban ini Berlaku atasnya Atas anak-anak kita, generasi kita
Hanya karena inilah aku memohon Untuk menyelesaikan pembangunan arsitektur peradaban ini Berlaku atas kita Aku, kamu dan anak-anak kita Melebur dalam fungsi kemanusiaan Demi eksistensi sesuatu yang telah diajarkan Agar berlaku menurut hakikat penciptaan kita
VIII TAMAN PELIPUR LARA, DESIGN ITU TELAH ADA
Wahai engkau taman pelipur lara Sang bidadari yang membasuh semua luka yang tergurat Mendekatlah padaku Kuingin selalu mendengar bisikan mesra mu Bisikan yang meyakinkan ku Engkaulah sang penghias kalbu
Wahai engkau taman pelipur lara Puteri penghias mahligai Yang bertahta dengan pengertian akan kegelisahan ku Yang bertahta dengan pengertian yang meredam kecewa yang tercipta
Wahai engkau taman pelipur lara Abadilah bersama ku Bersama dalam gerak langkah yang kan kita lewati Bersama dalam kejujuran yang menyatukan hati Bersama dalam tarikan nafas dan detak nadi
Wahai engkau taman pelipur lara Jadilah prisma dihati ku Jadilah prisma yang mengurai idea-idea yang tercurah dari sel-sel kelabu ini Mengurainya menjadi sejenis warna pelangi
IX LELAKI INI
Lelaki ini yang kan kau dapati Lelaki dengan komitmen yang tak mengenal kadaluarsa Lelaki yang kan memberikan yang terbaik yang mampu dilakukan Lelaki dengan keutuhan cinta yang paripurna
Lelaki inilah yang kan kau dapati
Sukabumi, 02 Maret 2009
Catatan: Aku butuh dua tahun lagi untuk mempersiapkan segalanya Aku butuh satu generasi untuk memperlihatkan hasilnya
Puisi 26: PRASASTI UNTUK SEBUAH PERUBAHAN II
X PROLOG SEBUAH EPILOG
AKu bukan sang pemimpi Aku tak akan pernah bermimpi jika rasa takut masih menyelinap tuk meraihnya Tidak akan pernah !!!
Ah, sebuah permulaan yang cukup ekstrem bukan ?
Di pagi tanpa kabut Tanpa hawa dingin Pagi yang cerah
Pagi itu kembali motivasi terpatri disini Didalam dada Lebih dalam dari tempat ma'rifat bersemayam Ya, dilubuk fuad
Bukankah awal sebuah keberhasilan adalah restu ibu ? Pagi itu aku mendapatkannya Setelahnya insan yang melahirkanku itu mengalami koma, kini, serasa aku dengan air mata ini membasuh sorga dikakinya
Ya, aku lelaki yang menangis Bukan karena tak bisa menjenguknya dikala dia sakit Bukan pula karena rasa rindu yang tak tertahankan Bukan, bukan itu
Sekali lagi, akulah lelaki yang menangis Menangis karena restunya Karena mungkin aku tak bisa melihatnya lagi Karena dia memantapkan ku untuk menatap lurus jalan yang masih terjal dihadapanku Karena dia berucap bangga meski aku masih setengah jalan menuju pulau cita
Hari ini, kecuali pagi, sampai petang Dalam langkah-langkah ku diantara paralelisasi rel kereta Dalam langkah-langkah ku bertadabur bersama sang alam Bertadaburnya dua makhluk ciptaan sang pencipta Dalam orkestra dzikir pada tiap helaan nafas Sang alam pun memperlihatkan tasbih yang jelas pada ku AKu bersimpuh, Bersujud atas segalanya tentang MU Serupa Musa dibukit Tursina
XI EPILOG
Tak akan pernah ada kata menunggu untuk sebuah kata sepakat Setuju atau lupakan sama sekali Kesempatan itu akan terus melaju Melaju seperti anak panah lepas dari busurnya Bergerak lurus menerobos waktu
Anggap saja untuk saat ini asumsi merupakan suatu kebenaran Jikalaulah waktu menuntut suatu perubahan Dari saat ke saat mengharuskan adanya suatu pembaruan Lalu, kenapa kata tabu tidak dihilangkan dalam konteks percepatan ?
Ada apa dengan waktu ? Apakah dunia akan berbeda dari detik ke detik ? APakah lingkaran rutinitas itu adalah keabadian ? Adakah arti untuk sebuah awal yang dipenuhi oleh optimisme yang membabi buta ? APakah bunyi lonceng jam malam dapat menentukan arah sejarah ? Seperti apakah momentum yang menandai saat-saat yang mengubah kehidupan ?
Tentang perubahan, Tidak ada kata terlalu cepat Tidak, jika kita mengenal Alexander The Great Tidak pula ada kata terlambat Tidak untuk Napoleon Bonaparte Tidaklah terlalu kecil bagi sebuah aple yang terjatuh ke hidung Issac Newton Namun, jangan tanya disini Jika kemudian setelahnya mereka membawa kita kepada abad-abad kegelapan
Pernahkah terlintas jika sunset dikaki langit tidak indah untuk sebagian orang ? Paling tidak bagi pialang di Wall Street Dengan putus asa sedang meratapi index saham di senja penuh kesuraman Menyaksikan mentari kapitalisme luruh tenggelam Apakah ini berarti sosialisme akan berpesta ? Mungkin juga tidak Mungkinkah ini juga berarti sebuah perubahan ? Perubahan yang muram bagi mereka
Perubahan adalah kepahlawanan ? Mari kita berpikir untuk itu Untuk ode yang bercerita mengenai manusia-manusia gagah berani Untuk rasa ke-"teu honcewang"-an dan ke-"sumoreang"-an mereka Untuk sikap "sinatria dilaga" Untuk Semboyan "cadu mundur pantrang mulang mun maksud tacan laksana" Untuk gegap gempita "sekali layar terbentang, surut kata berpantang"
Perubahan adalah pilihan hidup ? Mari kita bergerak untuk itu
Sukabumi, 08 Maret 2009
Catatan: Akhirnya hari ini, 13 Maret 2009, aku harus meninggalkan sukabumi, tempat persemaian harapan, untuk mencari lahan yang subur untuk menanam tunas asa yang mulai tumbuh.
Puisi 27: AKU TAKUT, SAYANG, SELIMUTILAH AKU.....
Rasa takut, sayang, bukankah setiap orang pasti memilikinya? Ya, rasa takut itu... Apakah serupa cinta yang platonis? Entahlah...
Aku teringat akan sebuah novel yang ending-nya mengutip soneta Shakespeare, begini: "...Dirimu untukku seperti makanan untuk hidup. Atau bagai hujan gerimis yang menyejukan tanah. Dan aku tahu bahwa aku mencintaimu, ya, begitulah perasaanku..."
Nah, Apakah rasa takut itu adalah rasa cinta? Entahlah, aku tidak bisa menjabarkan
"Blitzkrieg, blitzkrieg!!!" teriak Hitler, Dan Newton pun harus berterima kasih pada sebuah apel Bahkan, Alexander yang agung sekalipun pernah mengalami kekalahan dalam berperang
Apakah rasa takut hanya dimaknai dengan kepanikan, kekalahan atau ucapan terima kasih? Menurutmu bagaimana?
Sayang, izinkan aku meminjam curahan hati kierkegaard untuk merayumu, " Engkau ratu hatiku yang tersimpan di lubuk hatiku yang terdalam, dalam kepenuhan pikiranku, di sana ... ilahi yang tak dikenal! Oh, dapatkah aku sungguh-sungguh mempercayai dongeng-dongeng si penyair, bahwa ketika seseorang melihat sebuah obyek cintanya, ia membayangkan bahwa ia sudah pernah melihatnya dahulu kala, bahwa semua cinta seperti halnya semua pengetahuan adalah kenangan semata, bahwa cinta pun mempunyai nubuat-nubuatnya di dalam diri pribadi. ... tampaknya bagiku bahwa aku harus memiliki kecantikan dari semua gadis agar dapat menandingi kecantikanmu; bahwa aku harus mengelilingi dunia untuk menemukan tempat yang tidak kumiliki dan yang merupakan misteri terdalam dari keseluruhan keberadaanku yang mengarah ke depan, dan pada saat berikutnya engkau begitu dekat kepadaku, mengisi jiwaku dengan begitu dahsyat sehingga aku berubah (transfigured) bagi diriku sendiri, dan merasakan sungguh nikmat berada di sini."
Sudah jelaskah? Ya, masih tentang rasa takut itu
Diabaikan seperti gelembung sabun yang akan lenyap ditelan lintasan waktu, Ketika itu aku tahu bahwa biduk ini tak akan pernah menemui pelabuhan terakhirnya, pada senja itu, dia akan karam dalam kondisi remuk redam, Karenanya prasangka buruk akan terus mencari hingga menemukan bingkainya,
Lalu? rasa takut itu?
Suatu sore berwarna lembayung. Langit yang cerah masih menyimpan sisa-sisa panas matahari. Angin yang bertiup dari selatan seolah membelai-belai. Maka lembayung itupun seindah warna laut diatas kanvas sang pelukis. Sejuk, namun menyimpan kehangatan.
Lembayung simbol akan rasa takut? Maaf, kali ini aku merasa keberatan!
Siang yang kering, sore yang basah. Kenapa pelangi tak lagi tercipta? kenapa fatamorgana-pun bertingkah angkuh dihadapanku?
Rasa takut adalah tanda akan tanya?
Rasa sayang kita ternyata tak cukup untuk menyatukan kita. Paling tidak, menurut ibumu, masih banyak yang lain asal bukan aku. Lelaki yang baik, dalam pemikiran ibumu, lelaki manis yang disukai calon mertua. Lelaki yang mapan, meyakinkan memiliki masa depan yang menjanjikan, lelaki yang baik...
Rasa takut sudah merupakan ciri lelaki yang baik?
Inikah hari peradilan dari setiap hubungan, vonisnya tergantung dari isi periuk nasi kita?
Rasa takut terhadap isi periuk nasi?
Sudah, berhentilah untuk terus mempertanyakan karena sayup-sayup aku mendengar lengkingan suara freddy mercury menyayat-nyayat atmosfer, "...bring it back, bring it back, don't take it away from me because you don't know what it means to me..."
Margo City-Depok, 25 Juli 2009
Catatan: Tersenyumlah kamu dineraka sana, Freud!!!
Puisi 28: PAGI SURAM UNTUK GADIS MURAM
malam telah berlalu... tidak terlalu indah, dingin dan sunyi gadis itu bersikap seperti sphinx yang misterius wajahnya yang muram tak pernah berubah, memandang sedih pada horison yang membentang luas, berkilauan embunnya terkena matahari pagi mencoba menembus pemikiran-pemikiran yang berlalu-lalang
kesulitan selalu menyertai, telah terlalu lama menginjaknya menenggelamkan dirinya dalam buaian palsu kini, dia hanya mengharapkan diberi kesempatan kedua meskipun aku tahu, itu bukanlah kesempatan terbaik baginya
dia memandangku dengan mata yang bersinar diantara seribu perempuan yang mengelilingiku, hanya matanya-lah yang menunjukan ketulusan
gadis itu memiliki hati dan pikiran, sayang dia tidak dianugerahi keteguhan gadis itu tidak memiliki cinta
Plaza Jambu Dua, 30 Juli 2009
Puisi 29: TENTANG SEORANG LELAKI YANG MENYUSURI SUATU JALAN DISUATU MALAM DI BULAN SEPTEMBER
I HATI, LAUTAN YANG BERGEJOLAK
malam begitu senyap, diantara suara angin musim kemarau berhembus mencekam, diantara suara goresan-goresan pena yang membuat tulisan, baris demi baris diatas kertas dengarkanlah... dengarkanlah jantungku berdegub dengarkanlah nadiku berdetak dengarkanlah darahku berdesir dengarkan getar kerinduan, dengarkan getar qurun yang kita dambakan...
tak bisakah kau meraba gejolak hatiku? lihatlah dengan cara berpikir yang bijaksana dan berbudaya meskipun itu hanya sebuah rasa simpati yang abstrak atau serangkai kata-kata konvensional yang menawarkan persahabatan, cukuplah bagiku sejujurnya, aku tak pernah peduli pada mereka biarkanlah mereka yang bicara terus berbicara biarkan pikiran dengan hatinya terus bercakap-cakap rangkaian perkataan yang diucapkan berapi-api sebuah usaha agar ekspresinya jelas terlihat karena hidup bukan hanya melulu mengenai kebusukan yang disembunyikan dibalik jubah kebijakan tidak pula hanya mengenai tawa yang bertujuan menunjukan si empunya suara adalah orang yang lantang lagi gagah berani dan mereka kira yang telah mereka lakukan itu sebuah revolusi? apa yang bisa diperbuat oleh barisan yang jalan ditempat? meskipun belenggu euforia heroisme selalu mengusik tak tahu kenapa itu selalu mengganggu tapi biarkanlah... karena kita tahu, mungkin, superioritas bukan untuk dijadikan bahan propaganda bukankah yang demikian adalah untuk ditindaki?
II MASA LALU TELAH BERLALU
selalu ada bayangan dimana-mana, itulah yang terjadi selama ini disini... bayangan samar melayang dalam kekelaman malam antara nyata dan tak ada, demikianlah adanya seperti perahu yang berlayar menembus kabut ditengah penyesuaian terhadap fase-fase kehidupan membebaskan hidup dari sketsa imajinasi
usia muda, tidak ada yang lebih baik dari usia muda kita bisa hidup dalam fantasi sesuka kita kadang-kadang aku masih merindukanya ya! merindukannya merindukan gairah delapan tahun yang lalu yang masih akrab pada setiap tarikan nafas gairah yang ditimbulkan oleh emosi yang meledak-ledak juga gairah yang ditimbulkan oleh ketidaksabaran perasaan yang tidak pernah mengizinkan untuk sikap menunggu
apakah ini sebuah pekerjaan seorang arkeolog, selalu menggali kenangan-kenangan lama? sayangnya, semua mimpi-mimpiku hitam putih dan bisu
III MEREKA YANG SEDANG ASYIK BERCINTA
sisa-sisa panas matahari yang membakar masih terasa kerongkongan masih saja kerontang kering... kering... kering...
sebuah semangat yang terlalu baik menerima kekalahan tak ada kehidupan lagi dalam dirinya biarkan yang terbaik menang dan ia terlihat seperti lelaki yang terluka, ia benar-benar menginginkannya, lalu lelaki lain datang dan membawanya pergi... akhir dari sebuah hidup yang tak berguna yang sia-sia
ini bukan kisah remaja yang menamai semua perasaan yang berkonotasi baik pada lawan jenisnya sebagai cinta ini adalah mengenai kelanjutan suatu siklus manusia dan kemanusiaannya
IV SEDIKIT PERGULATAN MELAWAN TAKDIR
disaat kita sudah memilih jalan hidup kita masing-masing, selanjutnya kita harus menjalaninya...
peristiwa demi peristiwa terjadi sepertihalnya adegan-adegan dalam melodrama yang membosankan layaknya sebuah lingkaran yang membosankan lingkaran pelangi berwarna hitam apakah ini lebih menyerupai seorang pengasingan yang berjalan-jalan menelusuri kebun kentang di siberia? sesosok tubuh yang dikuasai oleh otak yang dikontrol oleh intelegensia sepenuhnya
faktanya, kita tidak pernah bisa menghapus masa lalu seperti tidak bisanya kita lari dari kenyataan keriuhan lontaran-lontaran lelucon yang tak lucu
V JIKA AKU JATUH CINTA (LAGI)
sebagai seorang lelaki, cukuplah keteguhan hati menjadi teman dan penentram jiwa kini keteguhan hati ini ingin menunjukan ujudnya keteguhan yang naif menggelitik hati
menyelami hati seorang gadis menyelami dasarnya, menelusuri palung-palungnya, mengelus tabir hidupnya hingga tergetar
mempertautkan keduanya, mempertautkan tujuan kedalam angan yang diidamkan mempertautkan otak dan hati hingga melebur
aku akan membawanya kebawah sinar bulan yang terang, yang dapat menghidupkan kecantikannya menjadi tiada tara sesuatu yang melekat padanya yang membuat pandangan tidak bisa melewatkan begitu saja membuat mata tertarik untuk memandangnya dan memandangnya lagi mungkin terlalu berlebihan jika menganggapnya mirip sang peri tetapi kesan yang dipancarkannya lebih real dari pada gadis-gadis cantik sekalipun
semburat naluri tentang kesempurnaan, bagai sebuah karya seni berlabel masterpiece gadis yang menampakan diri seolah dia adalah ratu perancis yang sedang duduk disinggasananya
apakah semua lelaki selalu percaya pada segala hal yang ingin dipercayainya? menyentuh kesendirian kembali dengan penuh harapan buah pikiran dari otak yang cemerlang
VI
bukan, ini bukan mengenai kulit luar yang terus menerus tergerus radiasi sinar ultra violet dan tergesek-gesek partikel yang berlalu-lalang ini hanya serupa debu diangkasa, dihempas angin, dihembus bayu...
ada begitu banyak kawan didunia ini selalu ingin mengatur hidup orang lain memberikan saran
kejujuran yang masih tersisa dalam sanubari membatalkan niatan itu tidak, aku cukup tahu diri aku tidak serupa anjing, yang masih menggonggong disaat terjepit, atau yang akan langsung menggigit disaat dilepaskan... aku bukan orang yang kan meminta jantung setelahnya diberi hati... aku tidak pernah menjadi serakah, karena aku akan selalu mencukupkan diri terlebih dulu sebelum perencanaan-perencanaan dijalankan... dan apa yang akan aku temui disana? bukan perkara keberhasilan ataupun kegagalan, aka tetapi aku akan menemui sebuah pengalaman hidup dengan tanpa ada kata penyesalan, bahkan untuk kesalahan yang paling tragis sekalipun
jalan pemda-bogor, 18 september 2009
Catatan: prasasti untuk gerbang "udz'khuluu fissilmi kaafah"
02512263737-08770350092
Puisi 30: KARENA DIRIMU TERCIPTA UNTUKKU, MENDEKATLAH DAN YAKINKAN DIRIKU
duhai dinda, terimalah genggaman tanganku jika ini akan diikat oleh pelangi menjadi abadi dan hanya jika seperti mercusuar mengundang sampan tuk bersauh bukalah hatimu, lalu biarkan aku bersama setia ini luruh padanya...
duhai dinda, berdirilah disampingku dan mulai samakan langkah jika memang kau yakin mentari asa adalah milik kita dan hanya jika berderap seperti serdadu berparade menuju nirwana lalu, kita akan menyanyikan ode tentang epos cinta kita melengking membelah angkasa meredam hymne nyinyir akan ironi kau dan aku ironi tentang punguk merentang busur, membidik purnama
duhai dinda, lihatlah pagi telah menjelang bukan lagi malam berselimut mimpi terselubung temaram
Parung-Merdeka-Batutulis-Sukasari-Warung Jambu-Depok, 30 Oktober 2009 Sebuah Prasasti untuk "Melati Berkerudung Awan Bercadar Embun"
Catatan: Terima kasih untuk Neka Tragedinita, ade yang selalu menyemangati aa-nya ini untuk terus mengejar gadis diseberang mimpi, yang selalu mau berbagi cerita, yang selalu memberi inspirasi, yang telah menrjemahkan adegan balkon-nya romeo and julliet, dan yang lain-lainnya... "ma'af ya de, ini bukan puisi romantis. soalnya sulit bikin puisi romantis diakhir bulan dan objeknya masih imajiner, hehehehe....."
Puisi 31: BIDADARI HIDUPKU
cantik, izinkan ku tuk mengagumi mu selamanya, disisa umur ini menjadi fragmen terindah dalam epos hidupku meski mungkin mekar kuntum mu bukan untuk ku
cantik, janganlah dulu berpikir tentang akhir dari cerita kita karena ku harap masih bisa menggenggam tangan mu meski tali abadi tak bisa ku janjikan disaat kita melihat mentari terbenam dimana kita menatapnya dibebatuan karang menatap cakrawala men-jingga lalu, kita telusuri butir-butir pasir kelabu sepanjang pantai dan biarkan ombak menjilati kaki telanjang kita membiarkan mimpi-mimpi menari tanpa peduli apakah kan menjadi nyata atau tidak
cantik, mungkin hanya bahu ini yang bisa ku tawarkan mungkin suatu saat nanti kau sudi menangis disini, mencurahkan segala rasa meski air mata itu bukan untuk ku paling tidak kau harus tahu betapa berartinya dirimu
cantik, berulang-ulang rekaman do'a ini ku perdengarkan berisi harap yang ku senandungkan penuh kasih sayang kasih sayang dalam arti seluas-luasnya seluas semesta angkasa mengitari ufukil a'laa menembus ruang waktu semoga tersampai di shidratil muntaha semoga berhembus dimensi menggiring kasih pada mu, pada ku semoga dipulau cita kembali bersua
Depok, 09 Nopember 2009 04:20 WIB Prasasti untuk Eka Nurjannat
Puisi 32: SEPOTONG DO'A DI LORONG MALAM, SENANDUNG HARAPAN ATAS HADIRNYA SANG DEWI DI HIDUP KU
dewi ku, bukannya ku tak santun jika dikau ku kagumi mengagumi kecantikan goresan Ilahi diwajah mu yang tampak jelas inginnya ku hiasi benak mu dengan tiara konsepsi agung tiara madrasat al ula bertahtakan permata pelipur lara
dewi ku, kenapa kasih ini getarnya begitu tak lazim ku temukan serupa pantulan patah menuju binar mata mu gerangan ini sejenis karunia Sang Khaliq pada hamba-Nya yang pandir ini wahai Pembimbing ku, giringlah kasih bagi kami agar bisa menjadi penyanjung hidup menurut-Mu
dewi ku, lancangkah kiranya aku jika berlutut dihadapan mu untuk meminta mu, untuk bersama untuk menuntaskan arsitektur peradaban ini berlaku atas-Nya untuk anak-anak kita, generasi kita, sebagai ghulaman zakiyya
dewi ku, hanya karena inilah ku beranikan diri untuk memohon untuk menemani ku menyelesaikan pembangunan arsitektur peradaban ini menjadi sejenis perikatan hidup kita berlaku atas-Nya aku, kamu dan anak-anak kita melebur dalam fungsi kemanusiaan demi eksistensi sesuatu yang diajarkan Sang Pencipta melebur pada kita melebur melalui proses menuju kesudahan terakhir sebagai baitti jannati bagi kita semoga menjadi menurut hakikat penciptaan kita
dewi ku, apakah harap ini bias jika menghendaki mu sebagai taman pelipur lara karena ku yakin dikau jelmaan bidadari, gadis diseberang mimpi sang pembasuh semua luka yang pernah tergurat
dewi ku, mendekatlah pada ku adakah kiranya dikau sudi menghembuskan semacam bisikan mesra bisikan yang dapat meyakinkan ku engkaulah sebagai penghias kalbu
dewi ku, apakah asa ini hampa jika menhendaki dikau sebagai taman pelipur lara menghendaki mu sebagai penghias mahligai yang bertahta dengan pengertian sebagai penentram dari kegelisahan yang dulu pernah tercipta yang bertahta abadi bersama ku bersama dalam gerak langkah yang kita lewati bersama dalam kejujuran yang menyatukan hati bersama dalam tarikan nafas dan detak nadi
dewi ku, jadilah prisma dihati ku jadilah prisma yang mengurai idea-idea yang tercurah dari sel-sel kelabu ini mengurainya menjadi sejenis warna pelangi
dewi ku, lelaki ini yang kan dikau dapati lelaki dengan komitmen yang tak mengenal kadaluarsa lelaki yang akan memberikan yang terbaik yang mampu dilakukan lelaki dengan keutuhan cinta yang paripurna dalam keterbatasannya
dewi ku, semoga Allah berkenan membimbing kita menunjukan jalan-Nya yang terbaik bagi masing-masing kita
Depok-Senin, 09 Nopember 2009 22:16 WIB Prasasti untuk "Eka Nurdjannat"
Puisi 33: UNTUK MU SANG PENGHIAS KALBU, KU PERSEMBAHKAN SEGUMPAL RASA BERLABEL CINTA
pagi ini, ku menyerah tanpa syarat tak berdaya ditundukan sederet serdadu rindu yang berbaris benar-benar ku tak kuasa tak kuasa membendung gelombang pesona mu yang bagaikan tsunami mendera membuat ku harus terus menyelam menelusuri palung-palung imaji terdalam andai kau tau, sayang... inilah yang ku namakan sebagai cinta
Depok-Rabu, 10 Nopember 2009 17:10 WIB Sebuah prasasti untuk "Eka Nurdjannat
Puisi 34: KAU DAN AKU, SESAAT SEBELUM KABUT MENJADI EMBUN
Sayang, Beri aku genggaman keyakinan ter-erat yang kau punya Biar riak-riak bimbang pergi dan malu tuk kembali
Sayang, Tatap mata ku... Adakah disana kau temukan sebentuk kepalsuan? Ataukah telah tersemai ragu dihati mu?
Sayang, Bersandarlah dipundak ku... Curahkanlah segala rasa yang ada Meski aku bukan Musa yang gagah perkasa Paling tidak, selayak rembulan dan gemintang yang saling berbagi malam Kita, kau dan aku, bisa saling meneguhkan
Sayang, Tersenyumlah untuk ku... Senyuman termanis hanya untuk ku Agar ku tahu pada mu lah mimpi-mimpi masa depan ku titipkan
Disuatu tempat disisi hati-Selasa, 24 Nopember 2009 Bersama semburat sang fajar memahat prasasti tentang "Eka Nurdjannat"
Tulisan berikut adalah bagian dari business plan yang sedang disusun.
OPERATION PLAN
Memilih Lokasi Usaha (Choose Effort Place)
Lokasi usaha untuk membuka Toko Obat ini haruslah lokasi yang strategis, dalam artian lokasi dimana terdapat banyak calon pembeli atau berhubungan langsung dengan calon pembeli. Beberapa hal penting yang akan dijadikan pertimbangan dalam menentukan lokasi usaha, sebagai berikut:
Lokasi usaha dilalui jalur transportasi dua arah. Sebaiknya lokasi berada disisi sebelah kiri karena itu merupakan jalur orang pulang kerja. Perhatikan pula kepadatan penduduk pada masing-masing sisinya. Hindari memilih lokasi di jalur cepat atau jalan protocol.
Sosio antropologis penduduk setempat, seperti: tingkat perekonomian, kepadatan, mata pencaharian, perbandingan penduduk asli dengan pendatang, tingkat pendidikan dan pengetahuan.
Lokasi didekat fasilitas umum dan atau dipusat usaha/perdagangan.
Tingkat keamanan dan kenyamanan dilingkungan sekitar lokasi usaha.
Intensitas kesibukan penduduk dan akses transportasi.
Ketersediaan tempat parker.
Tahapan Mencari Lokasi Usaha (Stage Looks for Effort Location)
Survei
Survei akan dilakukan pada pagi, siang, sore dan malam hari yang bertujuan untuk dapat mengasumsikan potensi keramaian daerah tersebut dan juga untuk dapat mengetahui tingkat persaingan usaha sejenis didaerah itu.
Analisa potensi pasar
Mempelajari aktifitas manusia didaerah tersebut merupakan tahapan selanjutnya yang kemudian akan dijadikan bahan untuk membuat klasifikasi pasarberdasarkan tingkatan ekonomi. Hal ini dijadikan sebagai referensi dalam menentukan target pasar dari usaha yang akan dijalankan.
Aksesbilitas
Melakukan pengamatan dan mempelajari aktifitas transportasi disekitar lokasi usaha untuk mendapatkan referensi jalur transportasi serta asumsi cara publikasi/promosi yang tepat dan efektif kepada calon konsumen.
Keamanan dan kenyamanan
Mencari informasi secara menyeluruh mengenai daerah tersebut, karena hal tersebut akan berpengaruh terhadap keamanan dan kenyaman usaha, karyawan konsumen/calon konsumen.
Sistem Operasional
System operasional didesain untuk mencapai tujuan mengendalikan proses operasional sehingga usaha memiliki standar/prosedur yang jelas dalam menjalankan kegiatannya. Dengan adanya standar/prosedur tersebut diharapkan tercipta konsistensi out put, berupa pencapaian sasaran usaha, yang terdiri dari: sasaran keuangan, kepuasan pelanggan, penguasaan proses operasional yang efektif dan efisien, pembelajaran dan pertumbuhan.
Pengendalian supplier, pembelian dan pengadaan barang
Pengendalian supplier, pembelian dan pengadaan barang mutlak dilakukan berdasarkan pertimbangan factor kualitas, harga dan kesinambungan pasokan/pengadaan (quality, cost and delivery). Hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan barang yang berkualitas baik dengan jaminan kesinambungan pasokan/pengadaan dan harga yang kompetitif. Pembelian barang diutamakan dengan cara pembayaran tempo (due payment) dan atau konsinyasi (consignment).
Pengendalian persediaan barang
Persediaan barang sangat penting dilakukan karena menyerap sekitar 40% dari investasi. Pengendalian persediaan barang dilakukan supaya jumlah barang yang harus disediakan dan waktu barang tersebut harus disediakan dapat terkendali. Hal ini untuk menghindari penumpukan barang di gudang, kehabisan persediaan, perubahan harga. System pengendalian persediaan dibangun untuk dapat mengakomodasi pengklasifikasian persediaan dalam kategori berdasarkan kebutuhan dan menjaga keakurasian pencatatan persediaan.
Kategori klasifikasi persediaan barang bias berdasarkan tingkat kesinambungan sirkulasi keluar masuk barang tersebut (trend penjualan).
Untuk menjamin keakuratannya, maka pencatatan persediaan didesain agar dapat memperlihatkan laporan berupa: persediaan awal, persediaan akhir (data harus selalu di up date), rekapitulasi barang (barang yang diterima, dikeluarkan maupun di-retur).
Kebijakan pengendalian persediaan barang tersebut diatas akan diterapkan dengan mengadopsi JIT (Just In Time) inventory system.
Pengendalian persediaan juga mengatur mengenai penyimpanan barang digudang dan atau di toko/display. Supaya tertata dengan baik maka penyimpanan barang menerapkan system FIFO (First In First Out), selain 5 P (Pemisahan, Penyimpanan, Pembersihan, Pemeliharaan, Pembiasaan) dan penetapan critical point untuk suatu jenis barang yang rentan terhadap kondisi tertentu.
Pengendalian penjualan
Pengendalian penjualan meliputi analisis, penelaahan dan penelitian terhadap pelaksanaan Marketing Plan dalam mencapai volume penjualan yang dikehendaki dengan biaya yang wajar. Penjualan harus dikendalikan agar dapat dicapai hasil pengembalian sebaik-baiknya atas investasi. Secara terperinci hal ini akan dibahas dalam point Marketing Plan.
Jaminan kualitas dan pengawasan proses operasional
Jaminan akan kualitas memungkinkan barang berada pada tingkat paling ekonomis dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan secara keseluruhan. Kegiatan penjaminan kualitas, yang meliputi pengendalian kualitas dan pemastian mutu, bertujuan supaya konsumen memperoleh barang dengan kualitas terbaik.
Pengawsan proses operasional diperlukan untuk membantu manajemen dalam memberikan informasi yang akurat, tepat dan cepat demi menjaga kelangsungan usaha. Pengawasan terhadap jalannya proses operasional dapat membantu memastikan system yang sedang dijalankanefektif dan terkendali.
Analisa data, tindakan perbaikan, pencegahan dan peningkatan berkelanjutan
Setiap proses tahapan operasional dicatat dan didokumentasikan. Catatan dan dokumen tersebut dikendalikan untuk selanjutnya dijadikan bahan analisa data. Melalui analisa data, dapat dilihat kesesuaian antara standar operasional dengan proses aktualnya.
Jika terjadi suatu penyimpangan, analisa data dapat menyajikan identifikasi permasalahan yang timbul, factor-faktor penyebab terjadinya dan kemungkinan-kemungkinan tindakan perbaikan yang dapat diambil serta efektifitas tindakan perbaikan yang dilakukan.
Lebih jauhnya, analisa data dapat menggambarkan suatu gejala umum dari suatu penyimpangan dalam proses operasional. Dengan demikian, dapat diambil langkah supaya potensi penyimpangan tersebut tidak menjadi masalah dengan mengambil tindakan pencegahan.
Dari pelaksanaan tindakan perbaikan dan pencegahan dapat mengarahkan kita kepada peningkatan yang berkelanjutan, sehingga proses operasional dapat berjalan secara efektif dan efisien.
Pengendalian Sumber Daya Manusia
Pengendalian sumber daya manusia adalah suatu proses terpadu dalam strategi untuk mendapatkan, memanfaatkan, mempertahankan dan meningkatkan kualitas tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan sekarang dan perkembangan yang akan dating.
Pengendalian sumber daya manusia meliputi proses rekrutmen, pelatihan, pengidentifikasian skill map personil dan penetapan job description.
Dengan terkendalinya sumber daya manusia, diharapkan pekerjaan atau tugas-tugas guna mencapai sasaran usaha yang sudah ditetapkan dapat berjalan secara optimal.
Tinjauan manajemen
Manajemen secara periodic melakukan tinjauan terhadap kesesuaian antara proses-proses yang dijalankan dengan pencapaian sasaran yang telah ditetapkan.
Peralatan dan Fasilitas
Peralatan dan fasilitas yang diperlukan untuk menunjang operasional Toka Obat ini adalah, sebagai berikut:
1 unit toko
1 unit gudang
1 set etalase untuk display
1 set rak
1 set meja kursi untuk kassa
1 set stampel dan alat tulis kantor lainnya
1 unit PC
Tempat parkir
1 set papan reklame
1 set pallet
Peralatan dan fasilitas tersebut diatas masih bisa didesain dalam menjaga efektifitas dan efesiensi operasional Toko Obat yang akan dijalankan nantinya.
Organisasi dan Manajemen
Job description
Pengelola
Pengelola bertugas membawahi dan mengawasi bagian-bagian yang menjalankan proses manajemen, proses operasional dan proses pendukungnya. Dengan kata lain, pengelola inilah yang akan membawa dan mengarahkan usaha Toko Obat ini mencapai sasaran yang telah ditetapkan.
Bagian Administrasi danKeuangan
Bagian administrasi dan keuangan memiliki tugas-tugas sebagai berikut:
Membuat Laporan Keuangan (neraca, laporan laba-rugi, laporan arus kas dan laporan perubahan modal) dan melaporkannya kepada pengelola secara periodic.
Bertanggung jawab terhadap pengendalian dokumen dan catatan pada proses manajemen, proses operasional maupun proses pendukungnya serta melakukan analisa data sebagai salah satu bahan pengelola dalam melaksanakan tinjuan manajemen.
Membuat program rekrutmen sesuai dengan kebutuhan perkembangan usaha dan merancang system pelatihan terhadap sumber daya manusia yang ada supaya memenuhi standar kompetensi yang telah ditetapkan. Dari program pelatihan tersebut, kompetensi sumber daya manusia yang tersedia harus tergambar dalam bentuk skill map.
Mempersiapkan bahan tinjauan manajemen dan memverifikasi tindaklanjutnya, dalam hal ini termasuk memverifikasi tindakan perbaikan, pencegahan dan peningkatan yang berkelanjutan.
Membuat metoda yang dapat mengukur tingkat kepuasan pelanggan.
Bagian Gudang
Tugas bagian gudang melakukan hubungan dan atau komunikasi dengan pihak supplier, menerapkan JIT (Just In Time) inventory system, FIFO (First In First Out) dan 5 P (Pemisahan, Penyimpanan, Pembersihan, Pemeliharaan, Pembiasaan) dalam melakukan pengendalian persediaan serta berkoordinasi dengan Penjaga Toko dalam melakukan penjaminan kualitas barang mulai diterima dari supplier hingga sampai ke tangan pelanggan.
Penjaga Toko
Membantu bagian gudang dalam penerapan JIT (Just In Time) inventory system, FIFO (First In First Out) dan 5 P (Pemisahan, Penyimpanan, Pembersihan, Pemeliharaan, Pembiasaan) dan penjaminan kualitas barang.
Mencatat volume penjualan dan melaporkannya kepada pengelola melalui bagian administrasi dan keuangan.
Melakukan pelayanan kepada pelanggan dengan 3 S (Senyum, Salam, Sapa).
Sales Motoris
Melakukan terobosan-terobosan dalam mengembangkan daerah pemasaran baik langsung ke konsumen, pengecer ataupun menjajaki kerja sama dengan tenaga kesehatan.
Struktur organisasi dan job description tersebut diatas disusun dalam rangka memperjelas alur kerja (memperjelas tugas dan tanggung jawab), meskipun demikian dalam prakteknya tugas dan tanggung jawab tersebut dapat dirangkap dan dilaksanakan hanya oleh beberapa personil saja (minimal 2 personil, tidak termasuk personil untuk sales motoris).
Standar Kompetensi
Pengelola
Memiliki jiwa kepemimpinan, jiwa wirausaha, inovatif, mengetahui proses operasional, proses manajemen dan proses pendukungnya.
Bagian Administrasi danKeuangan
Menguasai manajemen sumber daya manusia, system manajemen mutu dan dapat membuat laporan keuangan.
Bagian Gudang
Menguasai teknik negosiasi, memiliki hubungan denga supplier, menguasai JIT (Just In Time) inventory system, FIFO (First In First Out) dan 5 P (Pemisahan, Penyimpanan, Pembersihan, Pemeliharaan, Pembiasaan) dan memiliki pengetahuan mengetahui kualitas obat.
Penjaga Toko
Mempunyai kemampuan komunikasi yang baik dan memiliki wawasan mengenai obat.
Sales Motoris
Mempunyai kemampuan komunikasi yang baik dan memiliki wawasan mengenai obat
Manajemen
Proses operasional, proses manajemen dan proses pendukung merupakan proses internal sebagai salah satu alat bantu dalam mencapai sasaran usaha yang ditetapkan, terutama sasaran meraih kepuasan pelanggan dan sasaran pembelajaran dan pertumbuhan. Dengan demikian, pengelola dapat merumuskan sasaran yang dilengkapi dengan indicator yang seimbang dan saling memiliki keterkaitan (antara sasaran untuk mencapai kepuasan pelanggan, sasaran financial, sasaran pembelajaran dan pertumbuhan, serta sasaran proses internal). Sehingga pengelola dapat merencanakan sasarannya dan investor tidak ragu untuk menanamkan uangnya.
Embun masih saja belum menguap, Gerimis pun telah tiba dalam rintiknya yang merinai Bukit didepan rumah masih saja berkabut Sepanjang siang, sepanjang malam Dalam shimfoni yang membuat kepayang Dengarkanlah, dengarkanlah, aku akan bertutur.....
LELAKI INI//
Lelaki ini yang kan kau dapati/
Lelaki dengan komitmen yang tak mengenal kadaluarsa/
Lelaki yang kan memberikan yang terbaik yang mampu dilakukan/
Lelaki dengan keutuhan cinta yang paripurna//
Lelaki inilah yang kan kau dapati//
Sukabumi, 02 Maret 2009 - PRASASTI UNTUK SEBUAH PERUBAHAN: Bagian ke IX//